Prakiraan Cuaca Besok
Email kan kepada kawan anda
Naskah : redaksi AT beritanet.com
Iklan : iklan AT beritanet.com
Peristiwa kematian merupakan sebuah peristiwa kehilangan yang paling ditakutkan banyak orang. Tak terkecuali hal ini pula yang dirasakan oleh orang terkaya di dunia, Warren Buffet. Terlepas dari segala kesuksesan usaha dan kekayaan yang dimilikinya, Buffet tetaplah seorang manusia biasa. Sepeninggal Susan, istrinya, yang meninggal pada tahun 2004 lalu, Buffet merasa hidupnya hampa. Ditinggalkan oleh seorang wanita yang telah setia menemani dalam suka dan duka selama 52 tahun merupakan sebuah kehilangan besar bagi seorang Warren Buffet.
Buffet mengaku hampir tidak percaya ketika istrinya dipanggil pulang oleh Sang Pencipta. “Susie dua tahun lebih muda daripada saya. Padahal wanita biasanya hidup lebih lama daripada pria. Dan saat ini kesehatan saya baik-baik saja”, tuturnya kepada majalah Fortune. “Saat Susie masih hidup, kami selalu berpendapat bahwa ia akan mewarisi saham saya di Berkshire dan ia akan menggantikan saya mengawasi distribusi kekayaan kami kepada masyarakat. Kami selalu berpendapat bahwa kalau kami dipanggil Tuhan, maka harta kekayaan itu harus diberikan kepada mereka yang membutuhkan.”
Kematian Susie membuat Buffet terus merenung mencari jalan agar ia dapat menghabiskan sisa hidupnya dengan tenteram dan bahagia. Setelah melalui beberapa bulan dalam kedukaannya, akhirnya Buffet membuat keputusan yang sangat mengejutkan bagi semua orang, dengan menyumbangkan 85% harta kekayaannya. Tidak ada alasan lain bagi Buffet untuk menyumbangkan hartanya tersebut selain pesan Susie sebelum meninggal. Buffet menuturkan bahwa sebelum meninggal istrinya memang sempat memintanya untuk membagikan harta kekayaannya bagi orang-orang yang membutuhkan.
Buffet mengatakan bahwa selama ini ia dan istrinya tidak pernah berencana untuk mewariskan harta kekayaannya kepada anak-anak mereka. Buffet dan Susie sangat menginginkan anak-anaknya sukses dengan usaha mereka sendiri. “Bukan hal rasional dan benar untuk membanjiri mereka dengan uang. Kalau Anda melakukan itu mereka akan menjadi sangat besar kepala dan cenderung menjadi seorang meritocracy. Mega kekayaan dinasti akan jatuh ke ladang permainan yang seharusnya dihindari.” Buffet mengaku sudah cukup puas dengan apa yang dimilikinya sekarang dan apa yang sudah pernah ia rasakan hingga saat ini. “Saya punya sedikit harapan bahwa apa yang saya lakukan ini akan mendorong orang kaya lainnya untuk mengembangkan rasa cinta kepada sesama (philanthropy)”
Buffet mengawali bisnisnya
pada awal 1970-an dengan mempergunakan 15 juta dollar
Amerika yang ia miliki untuk mengontrol Berkshire.
Sebelumnya ia bekerja di tempat lain dengan gaji 50
ribu dollar Amerika per tahunnya. Ia menikahi Susie
pada tahun 1952. Saat itu ia mengatakan kepada Susie,
akan menjadi orang kaya. Dan Buffet membuktikan
janjinya dengan kerja kerasnya selama
bertahun-tahun hingga kemudian ia benar-benar
menjadi salah satu orang terkaya di dunia. Selama itu
pula Susie dengan setia mendampingi dan mendukung
setiap usaha yang dilakukan suaminya.”Saya kaya
bukan karena punya tambang atau kerja keras. Tapi
semuanya itu karena saya lahir dengan ketrampilan yang
tepat dan bekerja di tempat yang tepat, serta waktu
yang tepat pula”, kenangnya dengan rendah hati.
(./dna)
Email kan kepada kawan anda
Naskah : redaksi AT beritanet.com
Iklan : iklan AT beritanet.com







Muka |

