Newsletter
Voting: maret2010
Email kan kepada kawan anda
Kontak BeritaNET.com :
Naskah : redaksi AT beritanet.com
Iklan : iklan AT beritanet.com
Lowongan : karir AT beritanet.com
Kursus IT : kursus AT beritanet.com
Beli Buku : buku AT beritanet.com
Kerjasama : joint AT beritanet.com
Prakiraan Cuaca Besok
Prosentase pembajakan software di Indonesia turun. Tentu saja hal ini merupakan kabar baik, tapi seberapa besar? Tingkat pembajakan software Indonesia pada tahun 2007 yang lalu memang relatif turun menjadi 84% dari angka 85% pada tahun 2006. Dari sisi nilai kerugian yang diderita pun tidak sedikit, angka kerugian tahun 2007 mencapai $411 juta dollar Amerika.
Penurunan angka pembajakan ini tentu saja terkait dengan usaha pemerintah melalui aparatnya yang mulai getol mengadakan sweeping dimana-mana. Ini bisa diartikan, sweeping memang ‘cukup’ efektif untuk ‘sedikit’ mengurangi tingkat pembajakan di Indonesia. Kenapa baru ‘sedikit’ saja mengurangi tingkat pembajakan? Karena sebenarnya masalah pembajakan ini akarnya cukup kompleks. Tidak melulu hanya masalah pemberantasannya, tapi yang terpenting adalah akar permasalahannya.
Sebenarnya akar permasalahan dari pembajakan cukup mudah untuk dilihat. Kita bisa dengan cepat mengerti, mengapa 5 negara dengan angka pembajakan tertinggi adalah negara berkembang. Armenia (93%), Bangladesh (92%), Azerbaizan (92%), Moldova (92%), Zimbabwe (91%). Mengapa bukan Amerika, Jepang atau Inggris?
Bisa dibilang tingginya angka pembajakan ini berkaitan secara langsung dengan tingkat kesejahteraan masyarakat. Jika tingkat kesejahteraan masyarakat masih rendah, maka yang menjadi prioritas mereka adalah terpenuhinya kebutuhan pokok mereka. Segala sesuatu di luar kebutuhan pokok yang dapat mereka subtitusi, entah itu dengan komplemennya ataupun bajakannya, asalkan terjangkau pasti akan dilakukan. Begitu pula dengan software. Dapat dimaklumi, tingginya harga software dan mendesaknya kebutuhan pemakaian software, pada negara-negara berkembang ternyata berbenturan langsung dengan pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat. Dan seperti yang sudah bisa diduga, jalan keluar termudah dan termurah adalah dengan menginstall software bajakan. Harga sangat terjangkau, kebutuhan akan software terpenuhi dengan gampang, kebutuhan pokok tetap terselamatkan. Kalau sudah begini, siapa yang mau disalahkan?
Jika yang ingin disalahkan adalah sebuah legal corporate yang dengan enaknya tetap memakai software bajakan hanya untuk menekan angka pengeluaran perusahaan, mungkin kita setuju. Namun bagaimana jika yang memakai software bajakan tersebut adalah seorang anak dari keluarga sederhana yang dengan segala keterbatasannya ingin tetap belajar mengejar mimpinya?
Kehadiran software OpenSource semestinya sudah bisa menolong banyak pihak yang mempunyai keterbatasan untuk membeli legal software. Namun dukungan yang masih terbatas baik dari sisi hardware maupun software aplikasi pendukung terhadap Sistem Operasi OpenSource tetap menjadi kendala tersendiri bagi pemakaian software gratisan ini. Sebagian besar dukungan hardware maupun software aplikasi pendukung terlanjur telah berakar pada sang sistem operasi berbayar, Windows. Dominasi Microsoft terhadap pangsa software maupun hardware pun sudah terlanjur sangat kuat.
Tentunya untuk mengubah
realita ini dibutuhkan waktu dan usaha yang ekstra
keras dari semua pihak. Dan tentu saja pertumbuhan
tingkat kemakmuran sebuah bangsa akan banyak membantu
mengatasi masalah pembajakan ini. Karena, jika misalkan
saja penghasilan rata-rata seorang warga negara sudah
empat atau lima kali harga satu buah OS berbayar, maka
bisa dipastikan tidak ada keberatan dari masyarakat
untuk membeli legal software ini.(dna)
Diskusikan berita ini di Diskusi BeritaNET.com





Muka |

