Prakiraan Cuaca Besok
Email kan kepada kawan anda
Naskah : redaksi AT beritanet.com
Iklan : iklan AT beritanet.com
Seperti kita tahu, dunia pertempean nasional digoncang dengan melonjaknya harga kedelai di pasar domestik dan pasar internasional. Ketergantungan akan kedelai impor merupakan salah satu penyebab dari kenaikan harga ini. Indonesia yang dikenal sebagai negara agraris tidak mampu membuktikan bahwa negara ini dapat menghasilkan kedelai sendiri. Setelah tempe dipatenkan oleh Amerika Serikat, ternyata kita pun dibuat tergantung terhadap bahan bakunya yaitu kedelai kepada mereka. Konsentrasi pemerintah pertanian khususnya ke tanaman pangan yang sempat berkurang sejak pemerintah menyatakan bahwa Indonesia bergerak ke arah negara industri juga merupakan salah satu penyebabnya.
Tempe yang merupakan makanan murah
dan meriah serta merakyat kini menjadi salah satu
makanan yang mewah karena bahan-bahannya berasal dari
luar negeri. Dunia agribisnis Indonesia benar-benar
mendapat tamparan keras melalui lonjakan harga ini.
Banyak produsen tempe menghentikan sementara
produksinya karena tingginya harga bahan baku.
Di lain sisi ketergantungan kedelai dari luar negeri juga masih membawa dilema yang belum berakhir, karena kedelai yang kita impor 80 % nya adalah hasil Transgenic. Transgenic sendiri adalah sebuah teknologi untuk menyisipkan atau menambahkan gen pada tanaman supaya tanaman tersebut memiliki keunggulan tertentu. Pada umumnya tanaman dibuat sedemikian sehingga tahan akan hama dan hasilnya melimpah. Ketahanan akan hama ini sangatlah ekstrim, bukan membuat tanaman tahan jika diserang hama tetapi bahkan membuat hama tidak akan mendekat atau mati jika memakannya. Tanaman disisipi dengan bakteri pembunuh yang membuat penyerangnya mati (dalam hal ini serangga) bahkan menurut kabar tikus pun enggan mendekati tanaman seperti ini.
Keuntungan dari sisi petani menjadi meningkat karena mereka menghemat biaya insektisida, dan berarti biaya produksi tanaman menjadi lebih kecil. Dengan penggunaan insektisida minimal tetapi dapat diraih hasil produksi yang melimpah karena bebas hama.
Tetapi, kedelai transgenic ini bukan tanpa kendala. Penggunaan kedelai transgenic yang menyimpang dari tujuan aslinya memunculkan kendala tersendiri. Kedelai ini sebelumnya digunakan untuk meningkatkan hasil produksi minyak kedelai sebagai bahan bakar alternatif sektor industri. Pada perkembangannya, kedelai ini digunakan juga untuk konsumsi di Indonesia. Ironisnya sampai saat ini belum ada penelitian yang membuktikan bahwa produk transgenic aman untuk dikonsumsi. Amerika Serikat sebagai penghasil utama produk kedelai ini pun tidak menggunakannya untuk konsumsi, dan menyatakan tidak bertanggung jawab bila produk ini digunakan sebagai konsumsi. Negara-negara di Eropa pun menolak peredaran kedelai ini di negara mereka.
Banyak pihak
menyatakan bahwa kedelai hasil rekayasa genetika ini
akan berdampak buruk bagi tubuh manusia di jangka
panjang, seperti munculnya alergi pada tubuh manusia
hingga kematian. Dampak buruk ini masih menjadi
perdebatan panjang. Menteri Pertanian Indonesia
mengatakan bahwa tidak ada bukti kuat bahwa kedelai
transgenic berdampak buruk terhadap tubuh manusia,
untuk membedakannya diberikan pelabelan pada produk
yang menggunakannya. Apakah pernyataan aman ini dapat
dipastikan?
Penolakan pihak Eropa dan pihak
Amerika Serikat seharusnya menjadi rambu-rambu
tersendiri bagi negara ini. Jika serangga dan hama pun
akan menjauhi dan bahkan mati jika memakannya sangat
kecil kemungkinannya produk kedelai ini tidak berdampak
buruk terhadap manusia. Untuk jangka pendek mungkin
tidak akan terlihat, lalu bagaimana jika untuk jangka
panjang?
Bisa dibayangkan jika tempe yang kita makan berbahan baku dari kedelai transgenic ini, lima belas atau dua puluh bahkan tiga puluh tahun lagi, benarkah tidak ada dampak terhadap tubuh kita? Lebih parahnya lagi, tempe merupakan makanan pendamping yang sangat populer di masyarakat Indonesia. Belum lagi dengan banyaknya varian produk kedelai seperti susu kedelai, tahu, kecap, atau bahkan pakan ternak yang banyak menggunakan ampas dari kedelai. Jika ternak telah mengkonsumsi hasil transgenic, bukankah ternak juga dapat mengalami gangguan di tubuhnya? Bukankah kita memakan dagingnya?
Bisa Anda bayangkan,
kita benar-benar telah menelan bom waktu di tubuh kita.
Jika meledak, bom ini siap untuk menghancurkan tubuh
kita perlahan-lahan.
oleh : Panuwun
Budi Raharjo
Email kan kepada kawan anda
Naskah : redaksi AT beritanet.com
Iklan : iklan AT beritanet.com







Muka |

