Newsletter
Voting: maret2010
Email kan kepada kawan anda
Kontak BeritaNET.com :
Naskah : redaksi AT beritanet.com
Iklan : iklan AT beritanet.com
Lowongan : karir AT beritanet.com
Kursus IT : kursus AT beritanet.com
Beli Buku : buku AT beritanet.com
Kerjasama : joint AT beritanet.com
Prakiraan Cuaca Besok
Ledakan baterai gadget kembali jadi gunjingan
hangat. Jika tahun lalu baterai laptop yang bikin
heboh, sekarang giliran baterai ponsel. Bagaimana
sebuah baterai seukuran kotak korek api bisa meledak
layaknya sebuah bom?
Sebagian besar
gadget modern termasuk ponsel menggunakan baterai
lithium ion. Dijuluki baterai lithium ion karena tenaga
baterai ini berasal dari aliran ion-ion lithium
(Li+) di dalam larutan elektrolit. Sewaktu baterai
kita charge, ion lithium mengalir dari katoda (kutub
positif) ke anoda (kutub negatif). Sebaliknya, ion
lithium mengalir dari anoda ke katoda ketika baterai
bekerja.
Elektrolit, anoda, dan katoda
dikemas dalam sebuah kontainer bertekanan. Selapis
separator memisahkan anoda dan katoda agar keduanya
tidak saling bersinggungan. Separator itu terbuat dari
plastik super tipis dengan lubang-lubang mikro yang
hanya cukup dilewati ion lithium. Nah, masalahnya
bermula ketika baterai diproduksi di pabrik. Ada
kotoran berupa butir-butir logam yang masuk ke larutan
elektrolit. Tidak banyak memang, tetapi bisa
menyebabkan malapetaka. Cerita lengkapnya
begini.
Pada saat charging, suhu baterai
bertambah. Butiran logam akan berlarian kesana kesini,
mirip dengan butiran beras dalam air yang diaduk. Jika
berada di dekat separator, butir-butir logam itu bisa
merobek separator. Alhasil, terjadilah hubungan pendek
alias korsleting antara anoda dan katoda. Peristiwa
selanjutnya mudah ditebak.
Korsleting
membuat arus listrik mengalir sangat cepat. Suhu dan
tekanan di dalam baterai akan meningkat drastis.
Ledakan pun tak terhindarkan. Korsleting juga sanggup
memercikkan bunga api layaknya pemantik. Kontan saja
garam lithium yang memang mudah terbakar itu menyala
hebat. Bayangkan saja, energi yang bisa membuat ponsel
menyala berhari-hari itu lepas dalam
sekejap.
Baterai lithium ion sekarang mesti
bekerja lebih berat. Kapasitasnya dituntut makin besar,
tapi ukurannya tidak boleh menggembung. Mau tak mau,
pabrik baterai memakai separator yang lebih tipis dan
lebih mudah bocor.
Beberapa pabrik baterai
non-standar nekad menghilangkan pemutus arus demi
menekan harga. Tanpa alat kecil itu, baterai tetap
teraliri arus meski sudah terisi penuh. Terjadilah apa
yang disebut overheat atau panas berlebih. Jika sudah
begitu, baterai pun berpotensi meledak tiba-tiba.
Booom.
Eko Sujatmiko , penulis
iptek
Gambar 1. Jeroan baterai lithium ion.
Lembaran anoda dan katoda digulung dengan selapis
separator di tengah-tengah. Semuanya dimasukkan dalam
wadah berisi elektrolit yang dilengkapi ventilasi serta
cincin anti bocor. 
Gambar 2. Reaksi kimia membuat ion-ion lithium
(Li+) berpindah dari anoda ke katoda. Akibatnya
elektron mengalir dari anoda dan katoda sebagai arus
listrik. Sewaktu di-charge, ion-ion itu dipulangkan ke
katoda dengan cara memberi tegangan listrik di
katoda.
Gambar 3. Butir-butir
logam yang masuk ke elektolit saat baterai diproduksi
bisa merobek separator, lalu membuat anoda dan katoda
terhubung pendek (korsleting). Korslet juga terjadi
jika butiran logam menumpuk di anoda atau katoda.

Diskusikan berita ini di Diskusi BeritaNET.com
Berikan komentar
Komentar (19 dimuat)
-
Ditulis oleh hamba ALLAH, 24 Juli, 2008 02:05:43harga nokia n-gage klasik skrng, ad yg tau ga? klo tau, ksi tau dong. Pengen pke n-gage lagi.
-
Ditulis oleh KAORU, 28 Mei, 2008 07:08:51
-
Ditulis oleh Jameela, 17 Mei, 2008 02:11:46
-
Ditulis oleh edy mahyudin, 17 April, 2008 08:03:47





Muka |

