Posted: 26 Januari 2012 10:56:40 by valen BeritaNet.com | Dilihat 270 kali

"Saat ini bangsa Indonesia mengalami kemunduran yang besar. Hal ini juga terlihat dalam hal penggunaan bahasa yang disaksikan publik. Bahasa tidak lagi mengungkapkan kebenaran. Orang tidak berani terus terang. Tidak berani bertanggung jawab. Manusia menjadi kerdil dan pengecut. Lihat penggunaan istilah "apel malang," "apel washington," "bos besar," "ketua besar," semuanya mengelak dari tanggungjawab," demikian disampaikan sastrawan Arswendo Atmowiloto dalam Seminar Nasional dengan tema "Menggali Potensi Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya untuk Mengembangkan Pendidikan Karakter dengan Menanamkan Semangat Kewirausahaan." Seminar yang diselenggarakan Sabtu, 21 Januari 2012 di Ruang Koendjono Gedung Pusat Kampus II USD itu merupakan rangkaian acara kegiatan ilmiah Prodi PBSID, FKIP USD dalam rangka Dies Natalis ke-56 USD. Selain Arswendo, hadir sebagai pembicara Prof. Dr. Pranowo, M.Pd.

"Tugas kita sekarang adalah merekonstruksi kembali gambaran itu, dan atau menciptakan kisah baru. Saya menyebutnya sebagai 'Jalan Budaya' dengan ciri-ciri utama, antara lain: mengedepankan dialog dan bukan kekerasan, berkarya nyata selain berwacana, dan tidak menganggap budaya sebagai satu-satunya kebenaran sehingga dapat bekerjasama dengan displin ilmu lain dalam pendekatan," kata Arswendo yang membawakan makalah singkat berjudul "Jalan Budaya: Pendekatan Karakter Kewirausahaan."

Pusat Pendidikan Karakter adalah Keluarga

Dalam seminar yang dipandu Drs. B. Rahmanto, M.Hum itu kedua pembicara sepakat menyebutkan bahwa pusat dan inti pendidikan karakter adalah keluarga. "Pengalaman empiris saya sejak kecil dalam keluarga sangat menentukan apa yang terjadi dalam diri saya sekarang ini. Tata krama dan tata nilai berawal dari sini. Dan saya masih mengenangnya dengan rasa syukur," ujar Arswendo.

Sementara itu, Pranowo mengungkapkan bahwa issu-issu seperti pendidikan karakter dan pendidikan kewirausahaan yang sedang marak dalam masyarakat kita merupakan issu-issu politik yang dibebankan pada dunia pendidikan. "Hal itu merupakan politisasi dunia pendidikan. Dan bagi saya, pendekatan-pendekatan politik semacam itu akan gagal total jika tidak dilaksanakan dalam kerangka pendidikan afeksi," tegas Pranowo seraya menambahkan bahwa keluarga merupakan pusat pendidikan karakter.

Dalam hal membangun dan menjalankan projek kewirausahaan, Arswendo memberikan lima jalan budaya: kreativitas (menciptakan sesuatu yang baru atau membaharui sesuatu yang lama), berprestasi (menciptakan need for achievement), bersekutu (bersama dengan mereka yang mempunyai hobi atau ketertarikan hal yang sama), bersetia (menekuni sebagai panggilan, sebagai yang tak terelakkan), dan berbagai keberpihakan pada masyarakat.


Komentar Anda

Artikel terkait



    Info buku-buku IT terbaru

    Down | Up