Prakiraan Cuaca Besok
Email kan kepada kawan anda
Naskah : redaksi AT beritanet.com
Iklan : iklan AT beritanet.com
1. Observasi
Secara sederhana observasi
merupakan pengamatan terhadap realitas social. Ada
pengamatan langsung, ada juga pengamatan tak langsung.
Seseorang disebut melakukan pengamatan langsung bila ia
menyaksikan sebuah peristiwa dengan mata kepalanya
sendiri. Pengamatan ini bisa dilakukan dalam waktu yang
pendek dan panjang. Pendek artinya, setelah melihat
sebuah peristiwa dan mencatat seperlunya, seseorang
meninggalkan tempat kejadian untu menulis laporan.
Misalnya: peristiwa kecelakaan lalu lintas. Sedangkan
panjang berarti seseorang berada di tempat kejadian
dalam waktu yang lama. Bahkan ia menulis laporan dari
tempat kejadian. Contoh:peristiwa bencana alam.
Seseorang disebut melakukan pengamatan tidak
langsung bila ia tidak menyaksikan peristiwa yang
terjadi, melainkan mendapat keterangan dari orang lain
yang menyaksikan peristiwa itu. Misalnya: peristiwa
penemuan mayat suami-istri di sebuah rumah. Si Bujang
mendapat informasi bahwa di
jalan Melati No. 24 ditemukan mayat sepasang
suami-istri. Ia bergegas ke daerah itu. Sesampai di
sana, ia masih melihat epasang mayat tersebut. Kalau ia
kemudian mendapatkan data tentang siapa yang meninggal
dunia, kapan dan kenapa meninggal dunia, data itu
merupakan hasil pengamatan tidak langsung.Pengamatan di
sini tidak sama persis dengan pengamatan seorang
peneliti. Seseorang peneliti melakukan pengamatan
berdasarkan konsep dan hipotesis. Hasilnya, biasanya
dilaporkan dengan disertai pemecahan masalah ala
mereka. Sedangkan seorang pekerja pers melakukan
pengamatan untuk melaporkan kejadian sebuah peristiwa
apa adanya.
2. Wawancara
Wawancara adalah
tanya jawab antara seorang wartawan dengan narasumber
untuk mendapatkan data tentang sebuah fenomena (Itule
dan Anderson 1987:184). Dalam hal ini, yang perlu
diperhatikan adalah:
a. Posisi narasumber
dalam wawancara
Posisi narasumber dalam sebuah
wawancara adalah ibarat posisi pembeli dalam sebuah
transaksi dagang, yaitu sebagai ?raja?. Semua keinginan
narasumber harus dipenuhi oleh wartawan. Karena itu,
sebelum melakukan wawancara, wartawan harus menanyakan
keinginan
narasumber. Sebelum itu, wartawan harus
memperkenalkan secara langsung jati dirinya dan untuk
siapa ia bekerja kepada narasumber. Tahap-tahap ini,
menurut prinsip etika jurnalistik yang umum, harus
ditempuh oleh setiap wartawan sebelum melakukan
wawancara dengan narasumber, terlepas dari narasumber
mengetahui cara kerja jurnalisme atau tidak.
Terdapat beberapa hal mendasar yang perlu ditanyakan
kepada
narasumber, misalnya:
•
Apakah narasumber tidak keberatan bila kalimatnya
dikutip secara langsung?
• Apakah
narasumber tidak berniat namanya dirahasiakan dalam
sebagian hasil wawancara?
• Apakah
narasumber memiliki keinginan lain yang berkaitan
dengan hasil wawancara?
Bila wartawan sudah
mengetahui jawaban ketiga pertanyaan ini ditambah
dengan keinginan narasumber lain, maka terpulang kepada
wartawan bersangkutan untuk segera memenuhinya atau
bernegosiasi terlbih dahulu.
Bernegosiasi
dengan narasumber bukanlah pekerjaan yang haram.
Wartawan boleh bernegosiasi tidak berlangsung di bawah
tekanan pihak tertentu (ada dugaan wartawan yang handal
sering melakukan negosiasi dengan narasumber).
Kesepakatan yang dicapai berdasarkan negosiasi,
biasanya, lebih memuaskan kedua belah pihak. Terlepas
dari cara pencapaian kesepakatan, kesepakatan ini perlu
dicapai sebelum melakukan wawancara (tidak ada salahnya
wartawan juga merekan kesepakatan yang sudah dicapai.
Rekaman ini bisa dijadikan bukti bila kelak ada pihak
yang protes terhadap keberadaan wawancara tersebut).
Berdasarkan kesepakatan inilah seharusnya wawancara
berlangsung.
Setelah wawancara selesai,
wartawan perlu menanyakan kembali kepada narasumber,
apakah narasumber masih setuju dengan kesepakatan yang
sudah dibuat? Wartawan juga perlu meyakinkan narasumber
bahwa tidak akan terjadi penyesalan di kemudian hari
atas segala akibat kesepakatan yang sudah dibuat.
Dalam pandangan sebagian kecil wartawan,
pelaksanaan tahap-tahap wawancara tersebut di atas
menghambat kelancaran kerja mereka. Karena itu, mereka
enggan melakukannya. Tetapi, bagi mereka yang pernah
ketanggor, pelaksanaan tahap-tahap itu menjadi satu
keharusan.
b. Posisi wartawan dalam
wawancara
Sebagian besar individu akan merasa
sangat senang bila diwawancarai wartawan. Menurut
mereka, bila hasil wawancara tersebut disiarkan kepada
khalayak, nama mereka juga akan dikenal khalayak.
Semakin sering mereka diwawancarai wartawan, semakin
populerlah mereka. Individu-individu model begini akan
selalu bersikap manis kepada wartawan. Tidak heran bila
wartawan berada ?di atas angin? ketika berhadapan
dengan mereka.
Lalu, dimana posisi wartawan
yang sebenarnya? Kedudukan wartawan adalah penjaga
kepentingan umum. Para wartawan berhak mengorek informasi yang
berkaitan dengan kepentingan umum dari narasumber.
Mereka bebas menanyakan apa saja kepada narasumber
untuk menjaga kepentingan umum. Posisi inilah yang
menyebabkan mereka mendapat tempat di hati khalayak.
Kendati begitu, para wartawan, seperti dinyatakan oleh
Jeffrey Olen, harus menghormati keberadaan narasumber.
Mereka haurs mengakui bahwa narasumber adalah individu
yang bisa berpikir, memiliki alasan untuk berbuat dan
mempunyai keinginan-keinginan (Olen 1988:59).
Akibatnya, para wartawan harus memperlakukan narasumber
sebagai individu yang memiliki otonomi dan bebas
mengekspresikan segala keinginannya. Kalau pada satu
saat narasumber keberatan hasil wawancaraya disiarkan,
maka wartawan harus menghormati keinginan ini dan tidak
menyiarkannya.
Menurut para ahli, terdapat
tujuh jenis wawancara, yaitu man in the street
interview, casual interview, personal interview, news
peg interview, telephone interview, question interview
dan group interview (Itule dan Andersin 1987:207-213).
Operasionalisasinya begini:
Man in the
street interview
Wawancara yang dilakukan untuk
mengumpulkan pendapat beberapa orang awam mengenai
sebuah peristiwa, bisa menyangkut satu keadaan dan bisa
pula tentang sebuah kebijaksanaan baru. Biasanya
wawancara ini diperlukan setelah terjadinya sebuah
peristiwa yang sangat penting.
Casual
interview
Sebuah wawancara mendadak. Dalam hal ini
seorang wartawan minta kesediaan seorang narasumber
untuk diwawancarai. Si wartawan berbuat begitu karena
ia bertemu dengan narasumber yang dianggapnya punya informasi yang
perlu dilaporkan kepada khalayak.
Personal
interview
Merupakan wawancara untuk mengenal
pribadi seseorang yang memiliki nilai berita lebih dalam
lagi. Hasilnya, biasanya berupa profil tentang orang
bersangkutan. News peg interview Wawancara yang
berkaitan dengan sebuah laporan tentang sebuah
peristiwa yang sudah direncanakan. Wawancara inisering
juga disebut information interview.
Telephone interview
Wawancara yang dilakukan
lewat telepon. Ini biasanya dilakukan wartawan kepada
narasumber yang sudah dikenalnya dengan baik dan untuk
melengkapi sebuah berita yang sedang
ditulis. Dengan perkataan lain, seorang wartawan
memilih jenis wawancara memilih jenis wawancara ini
karena ia dalam keadaan terdesak.
Question
interview
Wawancara tertulis. Biasanya dilakukan
seorang wartawan yang sudah mengalami jalan buntu.
Setelah ditelepon, didatangi ke rumah dan ke kantor, si
wartawan tidak bisa bertemu dengan anrasumber, maka ia
memilih wawancara jenis ini.
Keuntungan
wawancara ini adalah: Informasi yang
diperoleh lebih jelas dan mudah dimengerti.
Kelemahannya adalah: wartawan tidak bisa mengamati
sukap-sikap pribadi narasumber ketika manjawab
pertanyaan-pertanyaan wartawan.
Group
interview
Wawancara yang dilakukan terhadap
beberapa orang sekaligus untuk membahas satu persoalan
atau implikasi satu kebijaksanaan pemerintah. Setiap
orang memiliki kesempatan yang sama untuk berbicara.
Contohnya adalah acara ?Pelaku dan Peristiwa? TVRI.
Semua jenis wawancara tersebut di atas akan
terlaksana dengan baik bila dipenuhi teknik-teknik
berikut:
• Menggunakan daftar
pertanyaan yang tersusun baik, yang sudah disiapkan
lebih dulu;
• Memulai wawancara dengan
pertanyaan-pertanyaan yang ringan;
•
Mengajukan pertanyaan secara langsung dan tepat;
• Tidak malu bertanya bila ada jawaban
yang tidak dimengerti; dan
• Mengajukan
pertanyaan tambahan berdasarkan perkembangan
wawancara.
3. Konferensi Pers
Pernyataan yang disampaikan seseorang yang mewakili
sebuah lembaga mengenai kegiatannya kepada para
wartawan. Biasanya menyangkut citra lembaga, peristiwa
yang sangat penting dan bersifat insidental. Tetapi,
tidak jarang bersifat periodik, seperti konferensi pers
Menteri Luar Negeri, yang berlangsung seminggu sekali.
Pada setiap konferensi pers, setiap wartawan memiliki
hak yang sama untuk mengajukan pertanyaan kepada orang
yang memberikan konferensi pers. Umumnya, lalu lintas
informasi dalam
konferensi pers dilakukan lewat dialog langsung.
Tetapi, ada juga konferensi pers yang menggunakan informasi tertulis
yang dibagikan kepada para wartawan. Untuk melengkapi
informasi
tersebut, para wartawan diberi kesempatan untuk
bertanya.
4. Press Release
Bisa
diartikan sebagai siaran pers yang dikeluarkan oleh
satu lembaga, satu organisasi atau seorang individu
secara tertulis untuk para wartawan. Ia mewakili
kepentingan lembaga, organisasi atau individu. Itulah
sebabnya media massa cetak yang besar, seperti ?Kompas?
tidak mau memuat siaran pers ini. Tidak ada keharusan
bagi wartawan untuk memuat siaran pers ini. Juga tidak
ada kesempatan bagi para wartawan untuk bertanya kepada
pihak yang mengeluarkan siaran pers tentang siaran
pers. Inilah yang membedakannya dengan konferensi pers.
Tegasnya, pada press release tidak ada tanya jawab
dengan wartawan dan narasumber. Sedangkan pada
konferensi, ada.
sumber : http://aliefnews.wordpress.com/2008/01/11/teknik-mengum pulkan-berita/
Email kan kepada kawan anda
Naskah : redaksi AT beritanet.com
Iklan : iklan AT beritanet.com







Muka |

