Prakiraan Cuaca Besok
Email kan kepada kawan anda
Naskah : redaksi AT beritanet.com
Iklan : iklan AT beritanet.com
Seperti kita tahu, terjadi euforia besar-besaran di dunia bisnis terutama di bidang agribisnis. Begitu banyak orang berpindah dari core bisnis sebelumnya ke agribisnis. Agribisnis yang tadinya dipandang sebelah mata menjadi lahan yang empuk untuk investasi.
Begitu banyak produk agribisnis menjadi trend di masyarakat akhir-akhir ini. Lihat saja bagaimana orang beramai-ramai mengusahakan cacing karena tergiur pesan bahwa terbuka pasar ekspor untuk cacing. Tetapi pada kenyataannya tidak ada serapan untuk pasar cacing selain untuk pakan ikan dan umpan memancing. Kasus yang lain adalah bagaimana orang tergiur tawaran mengusahakan ikan lou han karena tertarik isu bahwa "ikan bertato" ini membawa rejeki pada pemiliknya. Sehingga tidak jarang orang mulai memandang berjam-jam bentuk marking di tubuh ikan ini untuk mengetahui apakah berbentuk huruf dan bisa dibaca, dengan harapan jika dapat dibaca pasti laku mahal. Akhirnya marking yang tidak jelas pun dianggap jelas oleh pemiliknya dan mulai diartikan dengan kata tertentu. Euforia terakhir adalah kasus anthurium. Sebuah tanaman dengan daun lebar dan besar ini dibandrol ratusan juta bahkan terkadang seharga sebuah rumah dan mobil.
Trend yang semacam ini merupakan peluang untuk masuknya berbagai macam lini bisnis. Mulai dari on farm nya hingga ke marketingnya. Banyak orang menuai hasil dari produk yang mereka usahakan. Bahkan banyak orang yang tidak memiliki pun bisa menuai hasil. dengan bermodalkan handphone berkamera, banyak orang berkeliaran mencari produk, memotretnya dan kemudian menawarkan kepada pembeli. Tentu saja dengan memperoleh bagian dari hasil penjualan. Begitu menggiurkannya agribisnis hingga orang berpindah dari usaha lamanya. Begitu banyak middle man tanah atau mobil (yang kita kenal sebagai makelar) berpindah untuk menawarkan produk agribisnis.
Daya tarik trend yang luar biasa ini mengubah dunia bisnis di negeri ini. Tetapi sayang, banyak juga yang jatuh karena trend ini. Banyak orang berinvestasi di dunia cacing dan lobster air tawar, namun pada kenyataannya harganya "terjun bebas" karena tidak ada end user-nya. Bagaimana di bidang tanaman? Tidak banyak pula orang telah menginvestasikan uangnya di dunia tanaman, tetapi setelah dibeli dengan harga mahal ternyata di kemudian hari harganya mulai menurun dan akhirnya hanya menjadi pajangan di rumah.
Dari
semua kenyataan ini, apakah tren itu sebuah peluang?
atau ancaman?
Jawabannya tergantung dari sisi mana
saudara melihat. Dengan berpikir positif, apapun trend
itu sebenarnya semua bisa menjadi peluang, tapi harus
diingat satu hal :
"being trend setter not
the follower" maka trend akan menghasilkan banyak
uang bagi saudara.
Anda boleh memilih dimana
posisi Saudara.
seorang trend setter akan memiliki
keuntungan paling besar dalam sebuah trend dibandingkan
dengan pengikut trend. Walau bukan berarti pengikut
trend tidak menguntungkan, tetapi jika dibandingkan
dengan para trend setter akan sangat jauh
berbeda.
Lalu bagaimana jika Saudara memilih
berada di luar trend? Apakah merugikan? Tidak juga.
bukankah tidak semua orang mencari barang yang ada
dalam trend? Bukankah ada pasar yang justru terbuka di
luar trend? Tidak ada yang tidak menguntungkan di dunia
bisnis, jika saudara berada di tempat dan posisi yang
tepat dengan waktu yang tepat.
Silahkan Memilih.
Penulis : Panuwun Budi
Raharjo
Email kan kepada kawan anda
Naskah : redaksi AT beritanet.com
Iklan : iklan AT beritanet.com
Berikan komentar
Komentar (1 dimuat)
-
Ditulis oleh Rofita Dewi, 12 Maret, 2008 07:10:25Menjalankan entrepeneurship memang penuh resiko,bagaimana tidak,kita harus dituntut untuk mengetauhui "marketing" secara luas,dan resikonya sudah jelas "cost atau benefit" dan dari wacana anda saya akan memilih "I wanna be different and make it a tren"







Muka |

