Bahagia dan Menikmati Pekerjaan Walau Kendala Menghadang

  

Arsip

Sn Sl Rb Km Jm Sb Mg
1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031

Newsletter

Langganan newsletter:

Voting: Jan 2008

Topik Hardware Apakah Yang Paling Anda Minati


Prakiraan Cuaca Besok

  sumber : http://bmg.go.id
  • email Email kan kepada kawan anda
  • Tambahkan ke Yahoo! web Anda Tambahkan ke del.icio.us Digg berita atau artikel ini Tambahkan ke Furl Tambahkan ke Squidoo Tambahkan ke Technorati Tambahkan ke StumbleUpon Tambahkan ke Reddit Tambahkan ke Netscape Tambahkan ke Newsvine
    Naskah : redaksi AT beritanet.com
    Iklan : iklan AT beritanet.com

    
    dummy

    
    
         
Sesuaikan ukuran huruf: Perkecil font Perbesar font
foto berita artikel Bahagia Menikmati Pekerjaan
Bangun di fajar subuh dengan hati seringan awan
Mensyukuri hari baru penuh sinar kecintaan
Istirahat di terik siang merenungkan puncak getaran cinta
Pulang di kala senja dengan syukur penuh di rongga dada
Kemudian terlena dengan doa bagi yang tercinta dalam sanubari
Dan sebuah nyanyian kesyukuran terpahat di bibir senyuman


(Kahlil Gibran)


Sangatlah beruntung, orang yang memiliki pekerjaan. Apalagi di masa sulit seperti ini, dimana lowongan kerja begitu sedikit. Masih teringat dalam benak kita, sewaktu Trans TV membuka peluang kerja, ada sedikitnya 100.000 orang pelamar! Dari sekian banyak itu hanya akan dipilih 500 orang saja. Bayangkan. Mencari pekerjaan sama sulitnya dengan mencari jarum dalam tumpukan jerami.
Namun, seringkali mereka yang sudah bekerja tak berhenti mengeluh mengenai pekerjaannya. Entah karena gajinya yang kecil, atasan yang otoriter, banyaknya pekerjaan, dan sebagainya. Mengeluh memang sesuatu yang manusiawi. Tapi apakah dengan hanya mengeluh, kita bisa memperbaiki keadaan? Setidaknya langkah awal yang harus kita lakukan adalah: menikmati pekerjaan – apapun itu. Apakah Anda sudah menikmati pekerjaan Anda?

Seorang dosen muda sebuah Perguruan Tinggi swasta mengeluh tentang pekerjaannya. Mungkin kita heran, punya pekerjaan yang bagus, prestise, dan tidak sembarang orang bisa, kok masih tidak puas? Ternyata ia terkendala soal idealisme, politik kantor yang menghalalkan cara-cara kotor dalam sebuah sistem yang begitu sulit untuk tidak terlibat di dalamnya, sampai pada beratnya pekerjaan karena harus merangkap juga sebagai humas Universitas itu. Sulit juga bila dihadapkan pada kondisi semacam itu.

Lalu, bagaimana sikap kita bila menghadapi hal yang sama? Bagaimana kita bisa bahagia dan menikmati pekerjaan bila banyak kendala menghadang? Berikut adalah langkah yang bisa kita lakukan:

1.Bersyukur dan tetap tegar. Mungkin itu nasehat yang tepat. Bersyukur, karena minimal sudah punya pekerjaan tetap. Di saat banyak pengangguran. Apalagi menjadi dosen dengan jalan wajar, tidak dengan menyuap. Selanjutnya adalah bersikap tegar. Ketika menghadapi masalah, sebesar apapun, yakinlah bahwa pasti ada jalan keluarnya.
2.Bekerja untuk tujuan tertentu. Melakukan sesuatu tanpa tujuan yang jelas, membuat kita kehilangan semangat. Karena itu, tetapkan tujuan, misalnya untuk meraih karir yang lebih tinggi. Atau seorang bapak bekerja demi menghidupi keluarga. Hati menjadi ringan ketika melakukan pekerjaan, apalagi ketika terbayang akan sebuah tanggungjawab untuk memberikan nafkah bagi istri dan anak-anaknya.
3.Ciptakan persaudaraan di lingkungan kerja. Menjadikan rekan kerja sebagai saudara adalah ide yang baik. Dengan begitu, akan sulit bagi kita untuk terlalu iri, saling curiga berlebihan, apalagi saling menjatuhkan. Apalagi jika persaudaraan yang terjadi begitu kental, maka sesama karyawan akan saling mengasihi dan saling membantu. Jika kita melihat rekan kerja melakukan kesalahan, pasti kita akan mengingatkannya secara personal dari hati ke hati, bukan secara frontal. Suasana kekeluargaan akan membuat kita bersemangat untuk bekerja.
4.Membangun suasana nyaman. Entah itu ruang kerja, dekorasi ruangan maupun suasana interaksi antar sesama. Membangun komunikasi empatik itu penting. Seperti saling menanyakan kabar baru, menjaga seyuman dan sapaan-sapaan ramah lainnya, termasuk canda-tawa asal tak berlebihan. Bayangkan bila dalam satu ruangan tidak saling bertegur sapa. Bahkan berbicara saja tidak diperbolehkan. Bisa jadi sebulan kemudian, Anda akan mengundurkan diri. Sebaliknya bila ada canda tawa yang membuat suasana cair, tak hanya di level bawah, jajaran pimpinan pun kerap terlibat dalam canda tawa itu sehingga suasana kantor begitu menyenangkan untuk bekerja.

Jika kita berhasil menerapkan keempat langkah tersebut, niscaya pekerjaan seberat apapun akan terasa lebih ringan. Bukankah bekerja dengan hati riang membuat kita cenderung berpikir positif? Dan hasilnya, performa pekerjaan kita pun meningkat.

Salam sukses,

Dessy Danarti





Penulis : Dessy Danarti adalah seorang manajer penerbitan swasta nasional dan juga seorang penulis buku.



  • email Email kan kepada kawan anda
  • Tambahkan ke Yahoo! web Anda Tambahkan ke del.icio.us Digg berita atau artikel ini Tambahkan ke Furl Tambahkan ke Squidoo Tambahkan ke Technorati Tambahkan ke StumbleUpon Tambahkan ke Reddit Tambahkan ke Netscape Tambahkan ke Newsvine
    Naskah : redaksi AT beritanet.com
    Iklan : iklan AT beritanet.com

Berikan komentar comment Komentar (0 dimuat)

Paling Dicari Hari Ini

eXTReMe Tracker
Pasang Iklan : news  © 2007-2008. BERITA NET.com - SITUS BERITA INDONESIA